KUTAI BARAT – Kualitas udara di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, menjadi perhatian setelah indeks standar pencemar udara (ISPU) tercatat mencapai 557 dengan status Berbahaya dan menjadikan kualitas udara Kutai Barat menjadi yang terparah di provinsi kalimantan timur, Jumat (09/10/2026).
Di tengah ancaman gangguan pernapasan akibat kabut asap, PT Bharinto Ekatama (PT BEK) bersama mitra kontraktor menggelar bakti sosial kesehatan bagi warga Kampung Muara Bunyut.
Kegiatan yang menjadi agenda rutin tahunan perusahaan tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi dengan Yayasan Jantung Sehat Indonesia Cabang Kutai Barat dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kutai Barat.
Warga mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan dan konsultasi dokter secara gratis, obat-obatan, serta vitamin.
Kegiatan itu juga dilengkapi edukasi pencegahan penyakit jantung yang disampaikan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari RSUD Harapan Insan Sendawar, dr. Marihot Frenky Hutapea Sp.JP, senam sehat bersama, dan sosialisasi penyakit paru serta langkah antisipasi dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Selain edukasi kesehatan, perusahaan membagikan masker kepada masyarakat untuk membantu mengantisipasi gangguan pernapasan. Paket sembako juga disalurkan guna meringankan kebutuhan sehari-hari warga.
HSEC Head PT BEK Cipto Hadi Purnomo mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen perusahaan untuk berkontribusi terhadap kesehatan masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya.
“Kami berkomitmen untuk terus berkontribusi dan berkolaborasi dengan pemerintah kampung, mitra, tenaga kesehatan, serta seluruh pihak dalam meningkatkan kesehatan, kesejahteraan, dan kualitas hidup masyarakat,” katanya, Jumat (9/10/2026).
Berdasarkan data tambahan yang dihimpun, jumlah kasus ISPA sepanjang Juni hingga September 2026 mencapai 1.504 kasus.
Rinciannya, sebanyak 194 kasus pada Juni, meningkat menjadi 415 kasus pada Juli, kemudian mencapai puncak 478 kasus pada Agustus. Hingga pekan ketiga September, tercatat 417 kasus.
Meski jumlah kasus pada September menunjukkan penurunan dibandingkan Agustus, angka tersebut masih memperlihatkan tingginya ISPU di Kutai Barat termasuk tingginya kejadian karhutla yang masih terjadi.
Kondisi ini menjadi perhatian karena kebakaran hutan dan lahan dapat menghasilkan asap yang mengganggu kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan.
ISPU Kutai Barat yang tercatat mencapai 557 menunjukkan kondisi pencemaran udara yang sangat serius.
Dalam kategori ISPU Indonesia, angka di atas 300 masuk kategori berbahaya, sehingga masyarakat perlu mewaspadai paparan polutan di udara.
Paparan asap karhutla dapat memicu batuk, iritasi mata, sesak napas, serta memperburuk kondisi orang yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung.
Kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit penyerta, perlu mendapat perhatian khusus.
Melalui kegiatan tersebut, PT BEK mengimbau masyarakat menerapkan pola hidup bersih dan sehat, menggunakan masker saat diperlukan, memperbanyak minum air putih, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta beristirahat cukup.
“Warga juga disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk dan segera mencari pertolongan medis jika mengalami sesak napas atau gejala berat lainnya,” ucapnya. (*)
Penderita ISPA Di Kutai Barat Tembus 1.504 Kasus, Warga Kampung Bunyut Dapat Layanan Kesehatan Gratis














