GERAM Aksi di Depan kapolresta Samarinda, Soroti Reformasi Polri dan Isu Tahanan Politik

Aliansi Gerakan Mahasiswa (GERAM) menggelar aksi unjuk rasa di depan Markas Kepolisian Resor Kota (Mapolresta) Samarinda, Senin (2/3/2026). Aksi tersebut diwarnai orasi dan penyampaian tuntutan yang berfokus pada evaluasi institusi kepolisian serta perlindungan kebebasan berpendapat bagi mahasiswa dan aktivis.

Presiden BEM KM Universitas Mulawarman (Unmul), Hiththan Hersya Putra, dalam orasinya menyampaikan bahwa gerakan ini menjadi momentum kebangkitan semangat perjuangan mahasiswa. Ia menyinggung kasus Ariyanto Tawakal yang belakangan ramai diperbincangkan sebagai salah satu latar belakang aksi.

Menurut Hiththan, kepercayaan mahasiswa terhadap agenda reformasi di tubuh Polri saat ini berada pada titik terendah. Ia menilai tindakan intimidasi dan kriminalisasi terhadap mahasiswa yang menyampaikan aspirasi masih kerap terjadi.

“Setiap aksi selalu ada mahasiswa yang jadi korban (pukulan). Kami minta komitmen itu dihentikan, represifitas Polri di Samarinda harus berakhir. Reformasi Polri sepertinya hanya angan-angan, reformasi telah mati. Maka tidak ada jalan lain selain revolusi melalui people power seperti tahun ’98”, tegas Hiththan di hadapan massa, Senin (2/3/2026).

Ia juga menegaskan bahwa aksi tersebut bukan yang terakhir. GERAM berkomitmen untuk terus turun ke jalan setiap pekan dengan membawa tiga tuntutan utama, yakni pembebasan tahanan politik, evaluasi rapor merah Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, serta penuntasan dugaan kebobrokan institusi Polri.

Sementara itu, Kapolresta Samarinda Kombes Pol Hendri Umar menyampaikan apresiasi atas jalannya aksi yang berlangsung aman dan tertib. Ia menegaskan komitmen kepolisian dalam menjamin kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum.

“Kami mengapresiasi Aliansi GERAM karena menyampaikan aspirasi dengan cara yang sangat baik dan elegan, sehingga tidak ada ekses negatif dari kegiatan sore ini”, ujar Hendri Umar.

Dalam pengamanan aksi tersebut, Polresta Samarinda menurunkan sekitar 500 personel, termasuk pasukan Dalmas dan Brimob yang disiagakan di area internal mapolres.

Kapolresta juga menyoroti kehadiran sejumlah elemen masyarakat yang secara sukarela membantu pengamanan setelah informasi aksi beredar di media sosial. Ia menegaskan bahwa pihak kepolisian tidak pernah meminta atau mengarahkan kehadiran kelompok tersebut.

“Kami tidak pernah meminta atau mengarahkan, namun ada beberapa kelompok pengamanan swakarsa yang datang langsung membantu kami melakukan pengamanan. Kami ucapkan terima kasih”, tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *