SAMARINDA- Insiden ponton bermuatan batu bara yang kembali menabrak Jembatan Mahakam memicu perhatian luas publik. Peristiwa yang terjadi beberapa hari lalu itu menambah daftar panjang kecelakaan di jalur Sungai Mahakam yang selama ini dinilai mengancam keselamatan masyarakat sekaligus merugikan daerah.
Sejak diresmikan pada 1986, Jembatan Mahakam tercatat telah puluhan kali ditabrak kapal tongkang. Padahal, jembatan tersebut merupakan salah satu infrastruktur vital yang menjadi penghubung utama aktivitas ekonomi warga Samarinda dan sekitarnya.
Pengamat ekonomi Kalimantan Timur, Khairul Anwar, menilai kejadian yang terus berulang ini menunjukkan lemahnya pengelolaan lalu lintas sungai, khususnya terhadap kapal pengangkut batu bara yang melintas di bawah jembatan.
Menurutnya, ironisnya Jembatan Mahakam dibangun menggunakan anggaran daerah yang bersumber dari kekayaan alam Kalimantan Timur. Namun, aktivitas batu bara yang melintas di Sungai Mahakam justru tidak memberikan kontribusi nyata bagi daerah.
“Aset yang dibangun dengan APBD kita, dengan mengorbankan hutan dan sumber daya alam, tapi dari sekian banyak kejadian yang terjadi kita hanya menanggung dampak negatifnya. Batu bara lewat sungai, begitu turun ke sungai, tidak ada lagi pendapatan untuk Kaltim. Yang ada kita terus menanggung kerugian,” ujarnya Rabu (11/03)
Ia menambahkan, lalu lintas batu bara seharusnya dapat menjadi sumber pendapatan daerah, bukan malah berulang kali menimbulkan kerusakan infrastruktur serta risiko keselamatan bagi masyarakat.
Pengelolaan lalu lintas sungai sendiri berada di bawah kewenangan pemerintah pusat melalui sejumlah instansi seperti KSOP, Pelindo hingga Balai Wilayah Sungai (BWS). Namun hingga kini, dampak pengelolaan tersebut dinilai belum dirasakan secara maksimal oleh masyarakat Kalimantan Timur.
“Kita bukan hanya bicara tabrakan jembatan, tapi ini urat nadi ekonomi masyarakat Kaltim. Kalau terus terjadi, umur jembatan otomatis semakin pendek,” katanya.
Viral Pernyataan Ananda Emira Moeis
Di tengah sorotan tersebut, pernyataan Wakil Ketua DPRD Kalimantan Timur, Ananda Emira Moeis, ikut viral di media sosial. Dalam wawancara yang beredar, ia menegaskan bahwa tabrakan ponton terhadap Jembatan Mahakam tidak boleh dianggap sebagai kejadian biasa.
Ananda meminta instansi terkait lebih serius melakukan pengawasan terhadap lalu lintas kapal di Sungai Mahakam, mengingat ribuan warga setiap hari melintasi jembatan tersebut.
Namun potongan video pernyataan itu justru memicu berbagai komentar warganet, bahkan dari luar Kalimantan Timur yang dinilai tidak sepenuhnya memahami kondisi di daerah.
Sejumlah pihak menilai polemik yang menyerang pribadi Ananda justru mengaburkan substansi persoalan utama, yakni keselamatan masyarakat serta kerusakan infrastruktur yang terus berulang.
Organisasi mahasiswa GMNI Samarinda juga menyayangkan viralnya potongan video tersebut. Menurut mereka, apa yang disampaikan Ananda pada dasarnya merupakan bentuk kepedulian terhadap keselamatan warga.
“Substansi yang disampaikan sebenarnya soal keselamatan masyarakat dan pengawasan transportasi sungai. Itu yang seharusnya menjadi fokus,” kata perwakilan GMNI.
Berbagai kalangan menilai persoalan ini tidak bisa lagi dipandang sebagai kecelakaan biasa. Jembatan Mahakam merupakan infrastruktur strategis yang menjadi penghubung utama aktivitas ekonomi masyarakat di Samarinda.
Karena itu, evaluasi menyeluruh terhadap pengawasan lalu lintas sungai, tanggung jawab perusahaan, serta koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah dinilai mendesak dilakukan agar insiden tabrakan ponton tidak terus berulang.













